Dalam arti luas
kedisiplinan adalah cermin kehidupan masyarakat bangsa. Maknanya, dari gambaran
tingkat kedisiplinan suatu bangsa akan dapat dibayangkan seberapa
tingkatantinggi rendahnya budaya bangsa yang dimilikinya. Sementara itu
cerminan kediplinan mudah terlihat pada tempat-tempat umum, lebih khusus lagi
pada sekolah-sekolah dimana banyaknya pelanggaran tata tertib sekolah yang
dilakukan oleh siswa-siswa yang kurang disiplin.
Menurut Johar Permana,
Nursisto (1986:14), Disiplin adalah suatu kondisi yang tercipta dan terbentuk
melalui proses dan serangkaian perilaku yang menunjukkan nilai-nilai
ketaatan, kepatuhan, kesetiaan, keteraturan dan atau ketertiban.
Disiplin
Siswa di Sekolah
Dalam kehidupan
sehari-hari sering kita dengar orang mengatakan bahwa si X adalah orang yang
memiliki disiplin yang tinggi, sedangkan si Y orang yang kurang disiplin.
Sebutan orang yang memiliki disiplin tinggi biasanya tertuju kepada orang yang
selalu hadir tepat waktu, taat terhadap aturan, berperilaku sesuai dengan
norma-norma yang berlaku, dan sejenisnya. Sebaliknya, sebutan orang yang kurang
disiplin biasanya ditujukan kepada orang yang kurang atau tidak dapat menaati
peraturan dan ketentuan berlaku, baik yang bersumber dari masyarakat
(konvensi-informal), pemerintah atau peraturan yang ditetapkan oleh suatu
lembaga tertentu (organisasional-formal).
Seorang siswa dalam
mengikuti kegiatan belajar di sekolah tidak akan lepas dari berbagai peraturan dan tata
tertib yang diberlakukan di sekolahnya, dan setiap siswa dituntut untuk dapat
berperilaku sesuai dengan aturan dan tata tertib yang berlaku di sekolahnya.
Kepatuhan dan ketaatan siswa terhadap berbagai aturan dan tata tertib yang yang
berlaku di sekolahnya itu biasa disebut disiplin siswa. Sedangkan peraturan,
tata tertib, dan berbagai ketentuan lainnya yang berupaya mengatur perilaku
siswa disebut disiplin sekolah. Disiplin sekolah adalah usaha sekolah untuk
memelihara perilaku siswa agar tidak menyimpang dan dapat mendorong siswa untuk
berperilaku sesuai dengan norma, peraturan dan tata tertib yang berlaku di
sekolah. Menurut Wikipedia(1993:115) bahwa disiplin sekolah “refers to students complying
with a code of behavior often known as the school rules”. Yang dimaksud dengan
aturan sekolah (school rule)tersebut, seperti aturan tentang
standar berpakaian (standards of clothing), ketepatan waktu, perilaku
sosial dan etika belajar/kerja. Pengertian disiplin sekolah kadangkala diterapkan pula untuk memberikan
hukuman (sanksi) sebagai konsekuensi dari pelanggaran terhadap aturan, meski
kadangkala menjadi kontroversi dalam menerapkan metode pendisiplinannya,
sehingga terjebak dalam bentuk kesalahan perlakuan fisik (physical
maltreatment) dan kesalahan perlakuan psikologis (psychological
maltreatment), sebagaimana diungkapkan oleh Irwin A. Hyman dan Pamela A.
Snock dalam bukunya “Dangerous School” (1999).
Berkenaan dengan tujuan
disiplin sekolah, Maman Rachman (1999:83) mengemukakan bahwa tujuan disiplin
sekolah adalah :
(1) memberi dukungan
bagi terciptanya perilaku yang tidak menyimpang, (2) mendorong siswa melakukan
yang baik dan benar, (3) membantu siswa memahami dan menyesuaikan diri dengan
tuntutan lingkungannya dan menjauhi melakukan hal-hal yang dilarang oleh
sekolah, dan (4) siswa belajar hidup dengan kebiasaan-kebiasaan yang baik dan
bermanfaat baginya serta lingkungannya.
Sementara itu, dengan
mengutip pemikiran Moles, Joan Gaustad (1992:24) mengemukakan:
School
discipline has two main goals: (1) ensure the safety of staff and students, and
(2) create an environment conducive to learning”. Sedangkan Wendy Schwartz
(2001) menyebutkan bahwa “the goals of discipline, once the need for it is
determined, should be to help students accept personal responsibility for their
actions, understand why a behavior change is necessary, and commit themselves
to change.
Hal senada dikemukakan
oleh Wikipedia (1993:119) bahwa tujuan
disiplin sekolah adalah untuk menciptakan keamanan dan lingkungan belajar
yang nyaman terutama di kelas. Di dalam kelas, jika seorang guru tidak mampu
menerapkan disiplin dengan baik maka siswa mungkin menjadi kurang termotivasi
dan memperoleh penekanan tertentu, dan suasana belajar menjadi kurang kondusif
untuk mencapai prestasi belajar siswa.
Keith Devis mengatakan,
“Discipline is management action to enforce organization standarts” dan
oleh karena itu perlu dikembangkan disiplin preventif dan korektif. Disiplin
preventif, yakni upaya menggerakkan siswa mengikuti dan mematuhi peraturan yang
berlaku. Dengan hal itu pula, siswa berdisiplin dan dapat memelihara dirinya
terhadap peraturan yang ada. Disiplin korektif, yakni upaya mengarahkan siswa
untuk tetap mematuhi peraturan. Bagi yang melanggar diberi sanksi untuk memberi
pelajaran dan memperbaiki dirinya sehingga memelihara dan mengikuti aturan yang
ada.
Membicarakan tentang
disiplin sekolah tidak bisa dilepaskan dengan persoalan perilaku negatif siswa.
Perilaku negatif yang terjadi di kalangan siswa remaja pada akhir-akhir ini
tampaknya sudah sangat mengkhawarirkan, seperti: kehidupan sex bebas,
keterlibatan dalam narkoba, gang motor dan berbagai tindakan yang menjurus ke
arah kriminal lainnya, yang tidak hanya dapat merugikan diri sendiri, tetapi
juga merugikan masyarakat umum. Di lingkungan internal sekolah pun pelanggaran
terhadap berbagai aturan dan tata tertib sekolah masih sering ditemukan yang merentang
dari pelanggaran tingkat ringan sampai dengan pelanggaran tingkat tinggi,
seperti : kasus bolos, perkelahian, nyontek,perampasan, pencurian dan
bentuk-bentuk penyimpangan perilaku lainnya. Tentu saja, semua itu membutuhkan
upaya pencegahan dan penanggulangganya, dan di sinilah arti penting disiplin
sekolah. Perilaku siswa terbentuk dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara
lain faktor lingkungan, keluarga dan sekolah. Tidak dapat dipungkiri bahwa
sekolah merupakan salah satu faktor dominan dalam membentuk dan mempengaruhi
perilaku siswa. Di sekolah seorang siswa berinteraksi dengan para guru yang
mendidik dan mengajarnya. Sikap, teladan, perbuatan dan perkataan para guru
yang dilihat dan didengar serta dianggap baik oleh siswa dapat meresap masuk begitu
dalam ke dalam hati sanubarinya dan dampaknya kadang-kadang melebihi pengaruh
dari orang tuanya di rumah. Sikap dan perilaku yang ditampilkan guru tersebut
pada dasarnya merupakan bagian dari upaya pendisiplinan siswa di sekolah.
Brown dan Brown (1973;115)mengelompokkan
beberapa penyebab perilaku siswa yang
indisiplin, sebagai berikut :
1.
Perilaku tidak disiplin
bisa disebabkan oleh guru
2.
Perilaku tidak disiplin
bisa disebabkan oleh sekolah; kondisi sekolah yang kurang menyenangkan, kurang
teratur, dan lain-lain dapat menyebabkan perilaku yang kurang atau tidak
disiplin.
3.
Perilaku tidak disiplin
bisa disebabkan oleh siswa , siswa yang berasal dari keluarga yang broken home.
4.
Perilaku tidak disiplin
bisa disebabkan oleh kurikulum, kurikulum yang tidak terlalu kaku, tidak atau
kurang fleksibel, terlalu dipaksakan dan lain-lain bisa menimbulkan perilaku
yang tidak disiplin, dalam proses belajar mengajar pada khususnya dan dalam
proses pendidikan pada
umumnya.
Sehubungan dengan permasalahan di atas, seorang
guru harus mampu menumbuhkan disiplin dalam diri siswa, terutama disiplin diri. Dalam kaitan ini, guru harus mampu melakukan
hal-hal sebagai berikut :
1.
Membantu siswa
mengembangkan pola perilaku untuk dirinya; setiap siswa berasal dari latar
belakang yang berbeda, mempunyai karakteristik yang berbeda dan kemampuan yang
berbeda pula, dalam kaitan ini guru harus mampu melayani berbagai perbedaan
tersebut agar setiap siswa dapat menemukan jati dirinya dan mengembangkan
dirinya secara optimal.
2.
Membantu siswa
meningkatkan standar prilakunya karena siswa berasal dari berbagai latar
belakang yang berbeda, jelas mereka akan memiliki standard prilaku tinggi,
bahkan ada yang mempunyai standard prilaku yang sangat rendah. Hal tersebut
harus dapat diantisipasi oleh setiap guru dan berusaha meningkatkannya, baik
dalam proses belajar mengajar maupun dalam pergaulan pada umumnya.
3.
Menggunakan pelaksanaan
aturan sebagai alat; di setiap sekolah terdapat aturan-aturan umum. Baik
aturan-aturan khusus maupun aturan umum. Perturan-peraturan tersebut harus
dijunjung tinggi dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, agar tidak terjadi
pelanggaran-pelanggaran yang mendorong perilaku negatif atau tidak disiplin.
Selanjutnya, Brown dan
Brown (1973;122) mengemukakan pula tentang pentingnya disiplin dalam proses
pendidikan dan pembelajaran untuk mengajarkan hal-hal sebagai berikut :
1.
Rasa hormat terhadap
otoritas/ kewenangan; disiplin akan menyadarkan setiap siswa tentang
kedudukannya, baik di kelas maupun di luar kelas, misalnya kedudukannya sebagai
siswa yang harus hormat terhadap guru dan kepala sekolah.
2.
Upaya untuk menanamkan
kerja sama; disiplin dalam proses belajar mengajar dapat dijadikan sebagai
upaya untuk menanamkan kerjasama, baik antara siswa, siswa dengan guru, maupun
siswa dengan lingkungannya.
3.
Kebutuhan untuk
berorganisasi; disiplin dapat dijadikan sebagai upaya untuk menanamkan dalam
diri setiap siswa mengenai kebutuhan berorganisasi.
4.
Rasa hormat terhadap
orang lain; dengan ada dan dijunjung tingginya disiplin dalam proses belajar
mengajar, setiap siswa akan tahu dan memahami tentang hak dan kewajibannya,
serta akan menghormati dan menghargai hak dan kewajiban orang lain.
5.
Kebutuhan untuk
melakukan hal yang tidak menyenangkan; dalam kehidupan selalu dijumpai hal yang
menyenangkan dan yang tidak menyenangkan. Melalui disiplin siswa dipersiapkan
untuk mampu menghadapi hal-hal yang kurang atau tidak menyenangkan dalam
kehidupan pada umumnya dan dalam proses belajar mengajar pada khususnya.
6.
memperkenalkan contoh
perilaku tidak disiplin; dengan memberikan contoh perilaku yang tidak disiplin
diharapkan siswa dapat menghindarinya atau dapat membedakan mana perilaku
disiplin dan yang tidak disiplin.
Sementara itu, Reisman
dan Payne (E. Mulyasa, 2003:15) mengemukakan strategi umum merancang disiplin
siswa, yaitu : (1) konsep diri; untuk menumbuhkan konsep diri siswa sehingga
siswa dapat berperilaku disiplin, guru disarankan untuk bersikap empatik,
menerima, hangat dan terbuka; (2) keterampilan berkomunikasi; guru terampil
berkomunikasi yang efektif sehingga mampu menerima perasaan dan mendorong
kepatuhan siswa; (3) konsekuensi-konsekuensi logis dan alami; guru disarankan
dapat menunjukkan secara tepat perilaku yang salah, sehingga membantu siswa
dalam mengatasinya; dan memanfaatkan akibat-akibat logis dan alami dari
perilaku yang salah; (4) klarifikasi nilai; guru membantu siswa dalam menjawab
pertanyaannya sendiri tentang nilai-nilai dan membentuk sistem nilainya
sendiri; (5) analisis transaksional; guru disarankan guru belajar sebagai orang
dewasa terutama ketika berhadapan dengan siswa yang menghadapi masalah; (6)
terapi realitas; sekolah harus berupaya mengurangi kegagalan dan meningkatkan
keterlibatan. Guru perlu bersikap positif dan bertanggung jawab; dan (7)
disiplin yang terintegrasi; metode ini menekankan pengendalian penuh oleh guru
untuk mengembangkan dan mempertahankan peraturan; (8 ) modifikasi perilaku;
perilaku salah disebabkan oleh lingkungan. Oleh karena itu, dalam pembelajaran
perlu diciptakan lingkungan yang kondusif; (9) tantangan bagi disiplin; guru
diharapkan cekatan, sangat terorganisasi, dan dalam pengendalian yang tegas.
Pendekatan ini
mengasumsikan bahwa peserta didik akan menghadapi berbagai keterbatasan pada
hari-hari pertama di sekolah, dan guru perlu membiarkan mereka untuk mengetahui
siapa yang berada dalam posisi sebagai pemimpin.
Selanjutnya Hamalik
(1988:5) mengemukakan definisi disiplin sebagai berikut :
Disiplin mencakup setiap
macam hubungan yang ditujukan untuk membantu siswa agar dia dapat memahami dan
menyesuaikan diri dengan tuntutan lingkungannya dan jjuga tentang cara
menyelesaikan tuntutan yang mungkin ingin ditujukan dengan lingkungannya.
Disiplin
adalah suatu bentuk tingkah
laku di mana seseorang menaati suatu peratutran dan kebiasaan-kebiasaan sesuai
dengan waktu dan tempatnya. Dan ini hanya dapat dicapai dengan
latihan dan percobaan-percobaan yang berulang-ulang disertai dengan kesungguhan
pribadi siswa itu sendiri.
Jadi disiplin
belajar adalah suatu perbuatan dan kegiatan belajar yang dilaksanakan
sesuai dengan aturan yang telah ditentukan sebelumnya. Kedisiplinan belajar
sebagai suatu keharusan yang harus ditaati oleh setiap person dalam suatu
organisasi, dengan sendirinya memiliki aktifitas yang bernilai tambah. Unsur
pokok dalam disiplin belajar siswa adalah tertib kearah siasat. Pembiasaan
dengan disiplin di sekolah akan mempunyai hubungan yang positif bagi kehidupan
siswa dimasa yang akan datang. Pada mulanya disiplin dirasakan sebagai suatu
aturan yang menekan kebebasan siswa, tetapi bila aturan ini dirasakan sebagai
sesuatu yang seharusnya dipatuhi secara sadar untuk kebaikan diri sendiri dan
kebaikan bersama, maka lama kelamaan menjadi kebiasaan yang baik menuju kearah
disiplin diri sendiri.



